Pages

Subscribe:

Selasa, 06 Desember 2016

Miracle of Anfield Chapter II : Dean Court

Sumber : ftb90.com
"Dejavu : Comeback Sensasional Liverpool kala melawan Borusia Dortmund di perempat final Europa League terulang 235 hari kemudian, namun dengan tokoh yang berbeda"
            Semua fans Liverpool pasti hatinya bergetar kala mengingat comeback sensasional melawan Borusia Dortmund di perempat final Europa League April lalu. Bagaimana tidak, emosi kita dipermainkan kala itu. Kita dibuat menangis kala jeda, kemudian Origi melambungkan asa ke langit pasca jeda. Sebelum Marco Reus menjatuhkan harapan kita ke bumi dengan goalnya di menit ke-57. Kemudian asa itu kembali membumbung kala sepakan Coutinho menggetarkan jala Roman Weidenfeller di menit ke-66, ditambah tandukan Sakho 11 menit kemudian. Dan pada akhirnya publik Anfield menggila kala tandukan Lovren menembus sisi kanan gawang Weidenfeller di masa tambahan. Seluruh Kopites pasti merasa sangat puas dengan kemenangan sensasional tersebut. Tak dapat dibayangkan bagaimana perasaan pemain dan fans Dortmund kala itu. Mungkin, rasa sakit tersebut selalu terbayang hingga berhari-hari.
            235 hari berlalu, akhirnya pemain dan fans Liverpool mengerti bagaimana sakitnya Dortmund kala itu. Benar, keajaiban Anfield terulang kembali namun dengan tokoh utama dan panggung berbeda. Kali ini anak asuh Eddie Howe yang menjadi bintang dengan panggung bernama Dean Court. Mereka ibarat Ultraman yang bangkit setelah di hajar habis-habisan oleh sang monster. Bagi film laga, hal tersebut adalah hal yang biasa. Namun bagi sepakbola hal tersebut sangat luar biasa mengingat Liverpool sedang dalam peforma terbaik akhir-akhir ini.
Kronologisnya benar-benar mirip dengan keajaiban Anfield.  Bournemouth sempat tertinggal dua gol kala turun minum. Kemudian mereka mampu melawan melalui pinalti Callum Wilson. Selanjutnya  mereka kembali dihajar melalui sepakan Emre Can. Namun dengan semangat pantang mundur, The Cherries mampu membalikkan keadaan melalui rentetan  goal Ryan Fraser, Steve Cook, dan yang terakhir Nathan Ake.
Kekalahan menyakitkan tersebut merupakan PR besar bagi Juergen Klopp. Penyakit lama yang nampaknya sudah sembuh ternyata kambuh kembali. Juergen Klopp tentunya sadar dengan masalah tersebut dan berusaha memperbaikinya untuk mengarungi ketatnya Premier League. Hal yang luar biasa adalah Juergen Klopp mampu menanggapi kekalahan tersebut dengan bijak tanpa menyalahkan siapapun. Hal tersebut tercermin melalui komentarnya pasca pertadingan tersebut. Dalam komentarnya Klopp menyebut Bournemouth memang layak meraih kemenangan, karena telah menyuguhkan pertarungan yang besar dan semangat pantang menyerah.
"Pertama-tama saya harus mengatakan kemenangan ini layak untuk Bournemouth. Sebuah pertarungan yang besar dari mereka," buka Klopp, seperti dikutip Goal.com. 
"Kami memberikan permainan ini di titik yang menentukan. Kami terlampau lebar membuka pintu dan mereka berlari menerobos untuk mencetak beberapa gol indah. Jadi kekalahan ini terasa layak.
"Bahkan ketika kami memimpin 2-0, cara kami mencoba untuk memainkan permainan statis. Kami memberikan segalanya pada mereka, karena kami tampak tak lagi bermain sepakbola.
"Jika kami bisa belajar dari kekalahan ini, itu akan baik-baik saja. Ketika kami unggul 2-0 atau 3-1 permainan belum tuntas, namun cara kami bermain setelah sungguh memudahkan Bournemouth, Kami memberikan mereka bola dan hal-hal seperti itu sering terjadi," pungkasnya.
Sebagai seorang fans, tentunya kami berharap para pemain Liverpool mampu menjadikan kekalahan tersebut sebagai pelajaran. Kemudian dibalik rasa sakit tersebut, diharapkan akan memunculkan semangat dan mental yang kuat sehingga mereka mampu mengakhiri puasa gelar Liverpool.


2 komentar:

Ragsa E.A mengatakan...

Sip zul tapi sebaiknya sebutan2 make yang umum atau diberi catatan/-red siapa gitu agar yang umum kayak aku ngerti siapa dia hahahahaha

Unknown mengatakan...

Siap gan
nanti coba tak sunting
bantu share boss

Posting Komentar